Pondok Pesantren Abu Bakr Ash-Shiddiiq Al-Islami
---upaya mentarbiyah umat menjadi muslim ta'at---
---upaya mentarbiyah umat menjadi muslim ta'at---
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
SAMPAIKAH PAHALA BACAAN AL-QURAN UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL?
Pertanyaan :
Apakah benar dapat sampai pemberian pahala Alquran kepada mayit ?
Jawaban :
Pemberian pahala berupa amalan saleh kepada orang yang sudah meninggal merupakan permasalahan yang langka.
Imam Ahmad berpendapat bahwasanya pahala tersebut dapat sampai kepada orang yang telah meninggal [1].
Sementara imam Syafii berpendapat bahwasanya pahala tersebut tidak dapat sampai.
Ironisnya para pengikut mazhab Syafii justru memilih / mengambil pendapat imam Ahmad dan para pengikut mazhab Ahmad lebih memilih pendapat Syafii kecuali sebagian kecil dari mereka.
Dan yang lebih menenangkan hati adalah bahwasanya pahala yang dapat sampai kepada orang yang meninggal adalah apa yang telah datang penjelasannya di dalam tekstual dalil seperti haji, umroh dan sedekah.
Wallahu A'lam.
Sumber : https://telegram.me/ElBorai
الشيخ العلامة عبد العزيز البرعي حفظه الله
السؤال الثالث :
هل صحيح يصل إهداء ثواب القرآن الكريم للميت ؟
الجواب :
إهداء ثواب الأعمال الصالحة إلى الميت مسألة غريبة فأحمد يقول بأن الثواب يصل إلى الميت والشافعي يقول بعدم وصوله وأصحاب الشافعي أخذوا بقول أحمد وأصحاب أحمد أخذوا بقول الشافعي إلا النزر اليسير منهم. والذي تطمئن إليه النفس أن الذي يصل إلى الميت ماورد فيه النص كالحج والعمرة والصدقة. والله أعلم
BERSUMPAH ATAS NAMA ALLAH
Oleh Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhahulloh
Oleh Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhahulloh
SOAL:
Bagaimana hukum bersumpah dengan nama
Allah? Apakah hal ini boleh secara mutlak atau ada syarat-syaratnya?misal dalam
keadaan genting berkata wahai Robb aku bersumpah atas namamu angkatlah musibah
ini dariku"
JAWAB:
Tidak mengapa bersumpah keadaan genting, bersumpah
dengan nama Allah merupakan bagian dari
iman dan ketsiqohan terhadap Allah Azza wa Jalla.
Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba Allah jka
bersumpah dengan nama Allah maka akan di kabulkan. Akan tetapi keadaan seorang
muslim berusaha memperbaiki dirinya, menegakkan syariat Allah, menegakkan
aqidah yang benar sehingga ketika ketika
keadaan yang genting Allah Akan menolongnya.
alih bahasa @admin ashshiddiiq
transkrip
القسم على الله سبحانه وتعالى.
السؤال:ـ ما حُكم الأقسام على الله تعالى هل هو جائزٌ مُطلقا أو لهُ شروط كأن يقول حال الشدة تنزلُ بهِ أقسمتُ عليك يا رب إلا رفعت عني هذه المُصيبة ؟
الجواب:ـ لا بأس بذلك أن يُقسم على ربهِ هذا من باب الإيمان بالله والثقة بالله –عَزَّ وَجَلَّ- والنَّبِيِّ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يقول : " إِنْ مِنْ عِبَادِ الله مَنْ لَو أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرْه " ولكن الحال أن المُسلم يُصلح حالهُ ويقيم دينهُ وعقيدتهُ حتى إذا وقع في شدة أنقذهُ اللهُ منها
ALLAH MEMBENTANGKAN TANGANNYA UNTUK MEMBERI AMPUN PADA HAMBA
Hadits pagi
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“ SESUNGGUHNYA ALLAH AZZA WA JALLA MEMBENTANGKAN TANGANNYA
DI MALAM HARI UNTUK MEMBERI AMPUN
HAMBANYA YANG BERMAKSIAT DI SIANG HARI, DAN MEMBENTANGKAN TANGANNYA DI SIANG
HARI UNTUK MEMBERI AMPUN HAMBANYA YANG BERMAKSIAT DI MALAM HARI HINGGA TERBIT
MATAHARI DARI BARAT(KIAMAT) ”
SHOHIH MUSLIM/ 2751
BID'AH PERAYAAN MAULID NABI
oleh Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Utsman Adz-Dzamari hafizhahullah
Pertanyaan :
Apa hukum perayaan maulid nabi ?
Jawaban :
yang demikian itu telah diketahui oleh semua ulama bahwasanya itu adalah suatu kebid'ahan, dikarenakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
"barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak "
dan beliau bersabda :
"barangsiapa yang mengada-adakan suatu amalan dalam perkara agama kami ini yang tidak termasuk darinya maka amalan tersebut tertolak"
dan maknanya adalah barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang mana syariat tidak datang dengannya, tidak di Al-Qur'an, tidak pula di As-Sunnah tidak pula dilakukan oleh para sahabat maka amalan tersebut dikembalikan kepada pelakukanya (tertolak) !
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidaklah melakukan perayaan tersebut bagi diri beliau sendiri dan Abu Bakar pun tidak melakukannya, tidak pula Umar tidak pula Utsman tidak pula Ali tidak pula para sahabat tidak juga Hasan dan Husein tidak juga keluarga nabi.
perayaan tersebut muncul di abad keempat dari tahun hijriah yakni sekitar 400 tahun pasca wafatnya Nabi shalallahu alaihi wasallam, adalah kelompok sekte Ubaidiyyun (Syi'ah) mereka mengambil amalan tersebut dari kaum nasrani (perayaan natal).
maka yang demikian itu merupakan bid'ah yang telah dikenal, seandainya yang demikian itu adalah baik tentulah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melakukannya bagi diri beliau sendiri, dan jikalau yang demikian itu adalah amalan yang disyariatkan tentulah Abu Bakar akan melakukannya untuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dikarenakan mereka (para sahabat) kecintaan mereka kepada rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah lebih besar dibanding kecintaan kita kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dan kalau saja yang demikian itu merupakan perkara yang disyariatkan tentulah Umar melakukannya atau Utsman atau Ali atau mayoritas sahabat -radiallahu anhum- atau para keluarga nabi, dan mereka tidak melakukannya.
Maka yang demikian menunjukkan bahwa amalan tersebut tidaklah disyariatkan.
transkrip
السؤال :
ماحكم الإحتفال بالمولد النبوي ؟
الجواب :
هذا معروف عند جميع العلماء أنّه بدعة ؛ لأنّ الرسول صلى الله عليه وسلم يقول « من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ » ويقول « من أحدث في أمرنا هذا ماليس منه فهو ردّ »
والمعنى من عمل عملاً ما جاء به الشرع لا في القرآن ولا في السّنّة ولا فعله الصّحابة ؛ فهو مردود على صاحبه.
فالإحتفال لم يفعله الرسول صلى الله عليه وسلم لنفسه ،
ولم يفعله أبو بكر ولا عمر ولا عثمان ولا علي ولا الصّحابة ولا الحسن ولا الحسين ، ولا آل البيت ؛
جاء هذا الإحتفال في القرن الرابع الهجري بعد مايُقارب أربع مئة سنة من موت النبي -صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم- أخذه العبيديون من النّصارى !
فهذا بدعة معروفة ؛ لو كان خيراً لفعله الرسول صلى الله عليه وسلم لنفسه ولو كان مشروعاً لفعله أبو بكر لرسول الله صلى الله عليه وسلم لأنّهم كانوا يحبون الرسول أكثر من حبنا للرسول -صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم- ولو كان مشروعاً لفعله عمر أو لفعله عثمان أو لفعله علي أو لفعله كثير من الصحابة -رَضِيَ الله عَنْهُمْ- أو لفعله آل البيت ؛ وهذا لم يفعلوه دلّ على أنّه ليس بمشروع .
Sumber
http://olamayemen.com/Dars-9326
KEWAJIBAN BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH DAN LARANGAN BERBUAT BID’AH DALAM AGAMA SERTA CELAAN AGAMA ATAS BID’AH (bag. I)
Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan suatu nikmat yang sangat agung dan besar dibandingkan dengan sekian banyak kenikmatan lainnya kepada kaum muslimin, yaitu kesempurnaan Syari’at Islam. Allah ta’ala tidak mewafatkan Rasul-Nya kecuali setelah menyempurnakan dan meridhoi agama Islam atas beliau dan umatnya. Allah telah menurunkan satu ayat Al-Qur’an sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan yang paling mulia pada saat Hajjatul Wadaa’ (haji terakhir yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yaitu:
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لـكـم الإ سلام دينا {سورة المائدة آية 3}
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam untuk kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian, dan telah Aku ridloi Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al Maidah: 3)
Berkata Ibnu Abbas menafsirkan ayat tersebut:
“Allah telah mengkhabarkan kepada Nabi-Nya dan orang-orang beriman bahwa Dia telah menyempurnakan atas mereka Al Iman (Dienul Islam), maka mereka tidak membutuhkan tambahan selain dari Syari’at Islam. selama-lamanya. Allah telah menyempurnakan dienul Islam, maka Dia tidak akan menguranginya selama-lamanya dan sungguh Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan
memurkainya selama-lamanya”.(Tafsir Ibnu Katsir, Juz II,Hal.12)
“Allah telah mengkhabarkan kepada Nabi-Nya dan orang-orang beriman bahwa Dia telah menyempurnakan atas mereka Al Iman (Dienul Islam), maka mereka tidak membutuhkan tambahan selain dari Syari’at Islam. selama-lamanya. Allah telah menyempurnakan dienul Islam, maka Dia tidak akan menguranginya selama-lamanya dan sungguh Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan
memurkainya selama-lamanya”.(Tafsir Ibnu Katsir, Juz II,Hal.12)
Oleh sebab itulah Golongan Yahudi iri terhadap kaum muslimin dengan ayat yang mulia ini. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yang menyebutkan seorang laki-laki Yahudi datang kepada Umar bin Khothob dan berkata: “Sekiranya turun kepada kami (golongan Yahudi) satu ayat dalam kitab kalian (Al-Qur’an) yang selalu kalian baca, maka akan kami jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai ‘ied (hari raya)”. Barkata Umar: ‘Ayat yang mana ?! Berkata seorang Yahudi tersebut: “Al yauma akmaltu …..” .
Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan kesempurnaan Dienul Islam. Maka, siapa pun yang keluar darinya akan binasa. Beliau bersabda yang artinya : “Sesungguhnya aku tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih. Keadaan malamnya seperti siangnya, tidak (seorang pun) menyimpang /menyeleweng darinya setelah sepeninggalku kecuali dia binasa”
Dengan demikian, maka tidak boleh seorang muslim menambahkan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh-Nya dalam agama. Tidak boleh beribadah kecuali yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya. Wajib atas seluruh umat muslimin untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengadakan bid’ah dalam Diinul Islam yang tidak diidzinkan Allah dan tidak disyariatkan atas Rasul-Nya. Meskipun dianggap baik bid’ah tersebut dan diberi bumbu/hiasan padanya. Karena Agama Islam telah sempurna dan selainnya adalah bid’ah dan sesat.
Sungguh banyak sekali nash di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perkataan para sahabat , dan generasi salaf (generasi tabi’in dan atba’ut-tabi’in) yang menjelaskan perintah untuk berpegang teguh kepada sunnah, berjalan diatasnya, dan mencintainya serta melarang untuk tidak mengadakan bid’ah dan berhati-hati dengannya (bid’ah). Perkara tersebut telah masyhur dikalangan Ahlus Sunnah.
Pada pembahasan ini akan kami sebutkan sebagiannya, yang insya Allah cukup bagi mereka yang menginginkan kebenaran dan berakal. Allah Ta’ala berfirman :
وأن هذا صرا طي مستقيما فا تبعو ه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصا كم به لعلكم تتقو ن {سورة الأ نعام آية 153}
“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah agar kalian bertaqwa.” (QS. Al An’aam: 153)
Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan untuk mengikuti kitab-Nya:
اتبعوا ما أنزل اليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون {سورة الأ عراف آية 3}
”Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali (pemimpin-pemimpin) selain-Nya, sangat sedikit dari kalian yang mengambil pelajaran (darinya).” (QS. Al A’raf: 3).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah sebagai bentuk konsekuensi mencintai-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah sebagai bentuk konsekuensi mencintai-Nya.
وَمَا آتَاكُمُ الرسول فخذوه وما نهاكم عـنه فانتهوا {سورة الحشر آية 7}
”Dan apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul kepada kalian, maka terimalah (jalankanlah) dan apa yang dilarangnya atas kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (QS. Al Hasyr: 7).
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله ورسوله ولا تولوا عنه وأنتم تسمعون {سورة الأ نفال آية 20}
“Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kalian berpaling dari-Nya, sedangkan kalian mendengar (apa yang diserukan atas kalian)”. (QS. Al Anfaal: 20).
Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah sebagai bentuk konsekuensi mencintai-Nya.
قل إنكنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله و يغفرلكم ذنوبكم
{سورة آل عمرن آية 31}
{سورة آل عمرن آية 31}
Katakanlah (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ): ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imron: 31).
Sebaliknya, Allah mengkhabarkan bahwa menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebab awal datangnya fitnah dan adzab. Allah berfirman :
فليحذر الذين يخا لفون عن أمره أن تصيـبهم فتنة أو يصيـبهم عذاب أليم {سورة النورآية 63}
فليحذر الذين يخا لفون عن أمره أن تصيـبهم فتنة أو يصيـبهم عذاب أليم {سورة النورآية 63}
“Maka peringatkanlah orang-orang yang menyelisihi perintahnya untuk takut akan terkena fitnah atau adzab yang pedih.” (QS. An Nuur: 63).
Allah Ta’ala juga mewasiatkan setelah mengikuti Rasul-Nya , agar mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang-orang beriman. Karena mereka telah menyandarkan jalannya kepada jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Dia menjanjikan kepada orang-orang yang tidak mengikuti jalan tersebut dengan neraka Jahannam. Allah berfirman :
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا {سورة النساء آية 115}
“Barangsiapa yang menentang Rasul (Muhammad ) sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dikuasainya, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali”. (QS. An Nisaa’: 115).
Selain memerintahkan untuk mengikuti perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, yang hal itu merupakan sebab seseorang mendapatkan hidayah dan kebahagiaan, Allah Ta’ala juga telah memperingatkan dari perkara-perkara yang memalingkan pe rintah-Nya, yaitu mengikuti hawa nafsu, berbuat bid’ah dan selainnya yang menjadi penyebab kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman:
ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله إن الله لا يهدى القوم الظالمين {سورة القصص آية 50}
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dholim.” (QS. Al Qashash: 50)
Demikianlah, banyak sekali kita temukan ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan untuk ittiba’ (mengikuti perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya) dan melarang mengikuti hawa nafsu serta berbuat bid’ah. Terkadang kita jumpai di sebagian ayat-ayat Al Qur’an perintah untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya saja.
Di sebagian lainnya, perintah untuk mengikuti kitab-Nya (Al Qur’an) .Penyebutan pahala, hidayah, kemenangan, kebahagiaan, dan rahmat dari Allah pada mereka yang ittiba’ , serta penyebutan adzab dan siksa kepada mereka yang menyelisihi perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya sehingga dengannya mendapatkan fitnah dan dimasukkan neraka Jahannam. Itu semua menunjukkan pentingnya hal tersebut sebagai perkara yang ushul (pokok) dan mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Dinul Islam. (bersambung…Insya Allah)
Di sebagian lainnya, perintah untuk mengikuti kitab-Nya (Al Qur’an) .Penyebutan pahala, hidayah, kemenangan, kebahagiaan, dan rahmat dari Allah pada mereka yang ittiba’ , serta penyebutan adzab dan siksa kepada mereka yang menyelisihi perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya sehingga dengannya mendapatkan fitnah dan dimasukkan neraka Jahannam. Itu semua menunjukkan pentingnya hal tersebut sebagai perkara yang ushul (pokok) dan mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Dinul Islam. (bersambung…Insya Allah)
(Diterjemahkan oleh Al Ustad Abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Mauqifu Ahlussunnati wal Jama’ati min Ahlil Ahwa’i wal Bida’i)
KEWAJIBAN BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH DAN LARANGAN BERBUAT BID’AH DALAM AGAMA SERTA CELAAN AGAMA ATAS BID’AH(Bag. 2)
Adapun di dalam hadits-hadits, diantaranya hadits dari Jabir bin Abdillah yang panjang, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sungguh aku telah tinggalkan kepada kalian, yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat, yaitu kitabullah (Al Qur’an)” .
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Dan perkara yang paling jelek (jahat) adalah mengadakan perkara baru (bid’ah dalam agama), dan seluruh bid’ah adalah sesat.”
Irbadl bin Sariyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ‘Aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memimpin seorang budak Habsyi. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rosyidin Al-Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing dan yang mendapatkan petunjuk ),gigitlah dengan gigi geraham, dan berhati-hatilah kalian
dengan perkara yang baru (dalam agama) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Setiap amalan mempunyai masa semangat dalam mengamalkannya, dan setiap masa semangat ada masa lelah. Barang siapa lelahnya diatas sunnahku (dalam rangka menjalankan sunnah) maka dia sesungguhnya telah mendapatkan petunjuk (terbimbing). Barang siapa lelahnya tidak di atas sunnah (dalam rangka menjalankan amal tidak di atas sunnah) maka dia sesungguhnya telah binasa” .
Dan masih banyak hadits lainnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tinggi dalam memberikan nasehat kepada manusia, orang yang paling tinggi dalam memberikan kebaikan kepada umatnya dan orang yang paling
mengetahui keadaan umatnya. Sehingga beliau memerintahkan dan mewasiatkan kepada umatnya agar senantiasa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan mengikuti sunnahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan mereka agar berhati-hati dengan perkara yang baru (dalam Islam). Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan dan memperingatkan akan terjadinya perselisihan dan perpecahan serta timbulnya bid’ah-bid’ah pada umat beliau. Dan beliau juga menunjukkan jalan yang selamat dari perpecahan dan bid’ah tersebut, yaitu dengan berpegang teguh dengan sunnahnya dan sunnah para khalifah setelahnya yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk. Mudah-mudahan Allah تعالي yang maha luas kemuliaanya memberikan balasan yang setinggi-tingginya kepada beliau atas nasehat dan bimbingan yang telah beliau berikan kepada umatnya.
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Dan perkara yang paling jelek (jahat) adalah mengadakan perkara baru (bid’ah dalam agama), dan seluruh bid’ah adalah sesat.”
Irbadl bin Sariyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ‘Aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memimpin seorang budak Habsyi. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rosyidin Al-Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing dan yang mendapatkan petunjuk ),gigitlah dengan gigi geraham, dan berhati-hatilah kalian
dengan perkara yang baru (dalam agama) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Setiap amalan mempunyai masa semangat dalam mengamalkannya, dan setiap masa semangat ada masa lelah. Barang siapa lelahnya diatas sunnahku (dalam rangka menjalankan sunnah) maka dia sesungguhnya telah mendapatkan petunjuk (terbimbing). Barang siapa lelahnya tidak di atas sunnah (dalam rangka menjalankan amal tidak di atas sunnah) maka dia sesungguhnya telah binasa” .
Dan masih banyak hadits lainnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tinggi dalam memberikan nasehat kepada manusia, orang yang paling tinggi dalam memberikan kebaikan kepada umatnya dan orang yang paling
mengetahui keadaan umatnya. Sehingga beliau memerintahkan dan mewasiatkan kepada umatnya agar senantiasa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan mengikuti sunnahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan mereka agar berhati-hati dengan perkara yang baru (dalam Islam). Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan dan memperingatkan akan terjadinya perselisihan dan perpecahan serta timbulnya bid’ah-bid’ah pada umat beliau. Dan beliau juga menunjukkan jalan yang selamat dari perpecahan dan bid’ah tersebut, yaitu dengan berpegang teguh dengan sunnahnya dan sunnah para khalifah setelahnya yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk. Mudah-mudahan Allah تعالي yang maha luas kemuliaanya memberikan balasan yang setinggi-tingginya kepada beliau atas nasehat dan bimbingan yang telah beliau berikan kepada umatnya.
Adapun atsar dari para sahabat banyak sekali, diantaranya:
Berkata Muadz bin Jabal di Syam yang artinya: “Wahai manusia tetaplah kalian di atas ilmu sebelum diangkatnya ilmu, dan ketahuilah bahwa diangkatnya ilmu itu adalah dengan meninggalnya ahli ilmu (ulama). Berhati-hatilah kalian dari bid’ah, berbuat bid’ah dan melampaui batas (dalam ibadah). Dan tetaplah kalian di atas perkara orang-orang terdahulu (generasi salaf)” .
Berkata seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas Radhiallahu anhumaa: “Berilah wasiat kepadaku”. Berkata Ibnu Abbas kepadanya: “Tetaplah engkau bertak-
wa kepada Allah dan istiqomah,ikutilah dan jangan berbuat bid’ah” .
Berkata Abdullah bin Umar yang artinya: “Setiap perkara bid’ah adalah sesat meskipun dianggap baik oleh manusia. ”
Ini adalah perkataan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang didasari akal yang sempurna dan pandangan yang sangat dalam mengenai agama. Mereka membaca, mempelajari dan menggali dienul Islam kemudian mengamalkannya dan berhenti (tidak berbuat bid’ah). Sesungguhnya tidak ada generasi sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih alim dan faqih dalam agama Islam daripada para sahabat . Mereka adalah generasi yang mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud yang artinya : “Generasi terbaik dari umat ini, generasi yang paling tinggi kebaikan hatinya, generasi yang paling tinggi ilmunya dan generasi yang paling sedikit takallufnya” .
Dengan demikian, maka wajib bagi kaum muslimin untuk ittiba’ (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan berhenti (cukup dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak melakukan perkara bid’ah). Sebagaimana para sahabat dalam menjalankan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memperingatkan manusia dengan peringatan yang sangat keras dari perbuatan-perbuatan bid’ah, demikian juga yang telah dilakukan generasi salaf. Mereka telah mendapatkan keutamaan dan barokah dalam mengikuti para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil wasiat-wasiat yang berlandaskan Al Qur’an dan As-Sunnah dalam berpegang teguh
pada sunnah dan berhati-hati dari bid’ah.
Saya akan sebutkan perkataan generasi salaf (terdahulu) setelah para sahabat , yaitu dari tabi’in dan lainnya, dalam menetapkan perkara yang pokok ini dikarenakan mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam dan agar diketahui bahwa perkara ini disepakati (ijma’) oleh seluruh generasi salaf. Orang yang menyimpang darinya pasti sesat, mubtadi’(ahlul bid’ah) dan menyimpang dari dienul Islam.
Berkata Ayub As-Sikhtyani yang artinya: “Tidaklah seseorang yang berbuat bid’ah menambah kesungguhannya (dalam menjalankan bid’ah) kecuali Allah تعالي semakin menjauhkan dia dari-Nya” .
Berkata Yunus bin ‘Ubaid kepada anaknya yang duduk (bermajlis) dengan seorang tokoh mu’tazilah yang menyeru kepada kebid’ahannya yang bernama ‘Amru bin ‘Ubaid yang artinya: “Wahai anakku, aku melarangmu dari berbuat zina, mencuri, dan minum khamr. Sekiranya engkau bertemu Allah تعالي dengan membawa dosa-dosa tersebut lebih aku cintai daripada engkau membawa pemikiran sesat Amru dan para pengikutnya” .
Berkata Imam Syafi’i yang artinya: “Seseorang yang diuji oleh Allah تعالي dengan dosa-dosa yang diharamkan-Nya selain dari syirik itu lebih baik baginya dari pada dia di uji dengan Al Kalam (berbicara dan memahami ilmu agama Allah dengan
pemikiran sesat yang menyimpang dari bimbingan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam )” . Penjelasan dari Al Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan salaful ummah (para sahabat, tabi’in dan atba’ut-tabi’in) di atas menunjukkan wajibnya mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, serta generasi pertama dari umat ini yang telah dipersaksikan dengan segala kebaikan dan keutamaannya. Dengan demikian, seluruh bid’ah adalah haram, sesat dan binasa. Tidak ada kebaikan sedikitpun pada perbuatan bid’ah dan bahkan dicela dan dihinakan oleh para ulama, demikian pula orang-orang yang melakukannya.
(Tamat)
(Diterjemahkan oleh Al Ustad Abu ‘Isa Nur wahid dari Kitab Mauqifu Ahlussunnati wal Jama’ati min Ahlil Ahwa’i wal Bida’i)
Berkata Muadz bin Jabal di Syam yang artinya: “Wahai manusia tetaplah kalian di atas ilmu sebelum diangkatnya ilmu, dan ketahuilah bahwa diangkatnya ilmu itu adalah dengan meninggalnya ahli ilmu (ulama). Berhati-hatilah kalian dari bid’ah, berbuat bid’ah dan melampaui batas (dalam ibadah). Dan tetaplah kalian di atas perkara orang-orang terdahulu (generasi salaf)” .
Berkata seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas Radhiallahu anhumaa: “Berilah wasiat kepadaku”. Berkata Ibnu Abbas kepadanya: “Tetaplah engkau bertak-
wa kepada Allah dan istiqomah,ikutilah dan jangan berbuat bid’ah” .
Berkata Abdullah bin Umar yang artinya: “Setiap perkara bid’ah adalah sesat meskipun dianggap baik oleh manusia. ”
Ini adalah perkataan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang didasari akal yang sempurna dan pandangan yang sangat dalam mengenai agama. Mereka membaca, mempelajari dan menggali dienul Islam kemudian mengamalkannya dan berhenti (tidak berbuat bid’ah). Sesungguhnya tidak ada generasi sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih alim dan faqih dalam agama Islam daripada para sahabat . Mereka adalah generasi yang mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud yang artinya : “Generasi terbaik dari umat ini, generasi yang paling tinggi kebaikan hatinya, generasi yang paling tinggi ilmunya dan generasi yang paling sedikit takallufnya” .
Dengan demikian, maka wajib bagi kaum muslimin untuk ittiba’ (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan berhenti (cukup dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak melakukan perkara bid’ah). Sebagaimana para sahabat dalam menjalankan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memperingatkan manusia dengan peringatan yang sangat keras dari perbuatan-perbuatan bid’ah, demikian juga yang telah dilakukan generasi salaf. Mereka telah mendapatkan keutamaan dan barokah dalam mengikuti para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil wasiat-wasiat yang berlandaskan Al Qur’an dan As-Sunnah dalam berpegang teguh
pada sunnah dan berhati-hati dari bid’ah.
Saya akan sebutkan perkataan generasi salaf (terdahulu) setelah para sahabat , yaitu dari tabi’in dan lainnya, dalam menetapkan perkara yang pokok ini dikarenakan mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam dan agar diketahui bahwa perkara ini disepakati (ijma’) oleh seluruh generasi salaf. Orang yang menyimpang darinya pasti sesat, mubtadi’(ahlul bid’ah) dan menyimpang dari dienul Islam.
Berkata Ayub As-Sikhtyani yang artinya: “Tidaklah seseorang yang berbuat bid’ah menambah kesungguhannya (dalam menjalankan bid’ah) kecuali Allah تعالي semakin menjauhkan dia dari-Nya” .
Berkata Yunus bin ‘Ubaid kepada anaknya yang duduk (bermajlis) dengan seorang tokoh mu’tazilah yang menyeru kepada kebid’ahannya yang bernama ‘Amru bin ‘Ubaid yang artinya: “Wahai anakku, aku melarangmu dari berbuat zina, mencuri, dan minum khamr. Sekiranya engkau bertemu Allah تعالي dengan membawa dosa-dosa tersebut lebih aku cintai daripada engkau membawa pemikiran sesat Amru dan para pengikutnya” .
Berkata Imam Syafi’i yang artinya: “Seseorang yang diuji oleh Allah تعالي dengan dosa-dosa yang diharamkan-Nya selain dari syirik itu lebih baik baginya dari pada dia di uji dengan Al Kalam (berbicara dan memahami ilmu agama Allah dengan
pemikiran sesat yang menyimpang dari bimbingan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam )” . Penjelasan dari Al Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan salaful ummah (para sahabat, tabi’in dan atba’ut-tabi’in) di atas menunjukkan wajibnya mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, serta generasi pertama dari umat ini yang telah dipersaksikan dengan segala kebaikan dan keutamaannya. Dengan demikian, seluruh bid’ah adalah haram, sesat dan binasa. Tidak ada kebaikan sedikitpun pada perbuatan bid’ah dan bahkan dicela dan dihinakan oleh para ulama, demikian pula orang-orang yang melakukannya.
(Tamat)
(Diterjemahkan oleh Al Ustad Abu ‘Isa Nur wahid dari Kitab Mauqifu Ahlussunnati wal Jama’ati min Ahlil Ahwa’i wal Bida’i)
HUKUM MENGHINA ORANG YANG
MENGAMALKAN SUNNAH
SOAL:
Bagaimana hukumnya seseorang yang menghina atau merendahkan orang-orang yang multazim (berpegang teguh) atau beramal dengan perintah Allah dan Rasul-Nya ?
Bagaimana hukumnya seseorang yang menghina atau merendahkan orang-orang yang multazim (berpegang teguh) atau beramal dengan perintah Allah dan Rasul-Nya ?
JAWAB :
Menghina atau merendahkan orang-orang yang berpegang teguh atau
mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya adalah haram dan sangat bahaya sekali,
karena dikhawatirkan orang tersebut akan terjatuh pada penghinaan terhadap
orang yang istiqomah di atas agama Allah dan jalan yang ditempuh oleh mereka.
Keadaan mereka
tersebut menyerupai keadaan orang yang disebutkan oleh Allah dalam Al Qur’an
yang artinya :
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka
lakukan itu). Sungguh mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah
bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah (ya Muhammad): ‘Apakah dengan
Allah, ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian menghinakan atau berolok-olok?’. Tidak ada
ma’af atas kalian, sungguh kalian telah kafir sesudah beriman”.
Sesungguhnya
ayat yang mulia ini diturunkan kepada orang-orang munafik yang menghina dan
merendahkan Rasulullah bersama para sahabatnya. Keadaan akhir mereka mendapatkan
adzab dari Allah Azza wa Jalla.
Maka
peringatkanlah orang-orang yang menghinakan ahlul haq (orang-orang yang
mengamalkan kebenaran) dari ilmu agama Allah, karena Allah berfirman yang
artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya
(di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang
beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya. Dan apabila
mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: ‘sesungguhnya mereka itu
benar-benar orang-orang yang sesat’. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak
dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini (di akhirat)
orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas
dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi
ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.(Q.S.Al Muthaffifin : 29-36)
(Diterjemahkan
Oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab As'ilah Al Muhimmah dan Majmu’ah As 'ilah karya Asy-Syaikh ibn 'Utsaimin)
Sumber : Buletin Da’wah Al-Atsary, Semarang.
Edisi 16 / 1427 H
JANGAN MINTA TOLONG KE DUKUN DALAM KEADAAN APAPUN
ASY-SYAIKH SHOLIH AL-FAUZAN HAFIZHAHULLAH
SOAL:
Apakah diperbolehkan meminta
tolong kepada tukang sihir atau dukun untuk memenuhi sebagian keperluan atau
kebutuhan hidup tanpa membahayakan orang lain (bukan santet atau guna-guna
kepada orang lain)?
JAWAB:
Sihir adalah suatu perbuatan yang haram dan kufur, baik itu mempelajari sihir
atau mengajarkannya. Allah berfirman (artinya):” Dan tidaklah Sulaiman itu
kafir, akan tetapi para syaithon itulah yang mereka kafir (karena mengajarkan
sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia….”
Sampai firman Allah Ta’ala (artinya):” dan keduanya tidaklah mengajarkan sihir
kepada seorang pun sebelum mengatakan : sesungguhnya kami hanyalah fitnah
(ujian) bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir…”(Q.S.Al Baqoroh: 102)
Maka tidak diperbolekan meminta tolong kepada tukang sihir atau dukun supaya
kebutuhan hidupnya tercukupi. Karena perbuatan itu haram lagi kufur. Maka tidak
boleh bagi seorang muslim untuk mengamalkan perbuatan yang haram lagi kufur.
Bahkan wajib bagi setiap muslim untuk mengingkarinya. Dan wajib bagi pemerintah
muslim untuk membunuh tukang sihir dan memperingatkan kaum muslimin dari
kerusakan yang ditimbulkannya.
(Diterjemahkan oleh Al Akh Abu Sulaiman dari Majmu’ Fataawa Syaikh
Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan, Muraja’ah Al Ustadz Abu ‘Isa
Nurwahid)
METODE PENYEMBUHAN DARI GANGGUAN SIHIR
OLEH ASY-SYAIKH SHOLIH AL-FAUZAN HAFIZHAHULLAH
SOAL:
Metode-metode syar’i apakah yang bisa anda
nasihatkan untuk membentengi atau memelihara seseorang dari sihir? Apa
langkah penyembuhan yang harus dilakukan jika seseorang telah terkena sihir
(santet, tenung, guna-guna dan sejenisnya)?
JAWAB:
Metode syar’i yang bisa digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari pengaruh
sihir adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al ‘alamah Ibnul Qoyyim.
Beliau berkata:
“Dan telah diriwiyatkan dari Nabi ﷺ tentang cara penyembuhan bagi
seseorang yang telah terkena sihir. Cara tersebut ada 2 macam:
Salah satunya dan cara ini adalah yang paling utama yaitu menemukan atau
mengeluarkan buhul-buhul sihir dan menghancurkannya.
Sebagaimana telah shohih
dari Nabi ﷺ ketika beliau terkena sihir, beliau meminta kepada Allah agar
diperlihatkan tempat buhul-buhul sihir itu. Maka Allah mengabulkan permohonan
beliau. Lalu beliau mengeluarkan buhul-buhul sihir itu dari dalam sumur. Maka
ketika buhul-buhul itu telah dikeluarkan, maka hilanglah pengaruh sihir pada
diri Nabiﷺ, seakan-akan dilepaskan tali dari (ikatan) simpulnya.”
Sampai kemudian Ibnul Qoyyim mengatakan :
"dan termasuk langkah penyembuhan yang
paling bermanfaat dalam menghilangkan sihir adalah dengan pengobatan ilahiyah
berupa dzikir-dzikir, membaca ayat-ayat Qur’an dan do’a-do’a yang disyariatkan…"
Ini adalah cara kedua untuk menyembuhkan seseorang dari pengaruh sihir yaitu
dengan do’a-do’a yang disyariatkan, membaca Al Qur’an kepada orang yang terkena
sihir (ruqyah) yaitu dengan membaca surat Al fatihah, surat Al Ikhlash, surat
An Naas, surat Al Falaq, dan surat-surat yang lain, dan meniupkan dengan air
ludah yang sangat sedikit (bukan meludah) kepada orang yang diruqyah. Dengan
izin Allah pengaruh sihir itu akan hilang.
(Diterjemahkan oleh Al Akh Abu
Sulaiman dari majmu’ fataawa Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan,
Muraja’ah Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid)
Sumber : Buletin Dakwah Al-Atsary, Semarang Edisi XX / 1427H
RIYA'
OLEH ASY-SYAIKH SHOLIH AL-FAUZAN HAFIZHAHULLAH
Asy-Syaik Sholih
Al Fauzan hafizhahullah berkata:
"Riya
adalah beramalnya manusia dengan amalan sholih tujuannya agar dilihat oleh
manusia lain kemudian dipuji dengan amalan tersebut. Riya akan menggugurkan
amalan, menjadikan pelakunya wajib dihukum/diazab dan merupakan penyakit hati"
--dan sungguh nabi mengatakan bahwa riya
adalah syirik khofiy-tersembunyi-
Tanda-tanda
Riya:
Seseorang
rajin beramal jika disana ada orang lain yang melihatnya. Jika tidak ada yang
melihat maka orang tersebut tidak beramal.
Bagi seseorang
yang diuji dengan riya hendaklah dinasihat agar takut kepada Allah,
ingatkanlah bahwa Allah mengetahui apapun yang tersembunyi dalam hati. Ingatkan
pula bahwa azab bagi pelaku riya itu sangat berat. Amalan yang disertai riya
itu sia-sia tanpa faedah. Sesunggunya jika seorang beramal dengan tujuan
mendapat pujian maka dia akan dicela dibenci dan amalananya tidak bermanfaat
sedikitpun.
Sumber:
Al-Muntaqo min
Fatawa Al-Fawzan jilid 4 hlm 12
alih bahasa @admin ashshiddiiq
transkrip
قال الشيخ صالح الفوزان - حفظه الله -
❒ الرياء :
● هو أن يعمل الإنسان العمل الصالح لأجل أن يراه الناس فيمدحوه .
وهو محبط للعمل ، وموجب للعقاب ، وهو شيء في القلب .
❍ وقد سماه النبي ﷺ [ الشرك
الخفي ] .
❍ ومن علاماته :
●أن ينشط الإنسان في العمل إذا كان يراه الناس ، وإذا كانوا لا يرونه ؛ ترك
العمل .
❍ والذي يبتلى بالرياء :
يُنصح بالخوف من الله ، ويذكر باطلاع الله على ما في قلبه ، وشدة عقوبته للمرائين ،
وبأن عمله سيكون تعبا بلا فائدة ، وبأن الناس الذين عمل من أجل مدحهم سيذمونه ويمقتونه
ولا ينفعونه بشيء " .
المصدر
📚 [ المنتقى من فتاوى الفوزان
" (12 /4) ]
loyalitas
dan berlepas diri
(CINTA DAN BENCI KARENA ALLOH)
oleh asy-syaikh robi' bin hadi al-madhkholy hafizhahullah
oleh asy-syaikh robi' bin hadi al-madhkholy hafizhahullah
SOAL:
Apakah diperbolehkan loyalitas(cinta)
dan berlepas diri(benci) atas dasar pribadi/orang tertentu?
JAWAB:
Keadaan seperti ini termasuk
dalam ghuluw (berlebih-lebihan dalam beragama) yang diperangi oleh Allah Tabaaraka wa Ta'ala
Allah berfirman dalam kitab-Nya
yang artinya ((Wahai ahlul kitab janganlah kalian ghuluw dalam agama kalian dan
janganlah kalian berkata atas Allah kecuali kebenaran. Sesungguhnya Isa Bin
Maryam itu adalah utusan Allah))
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
''Janganlah kalian mengangkatku
sebagaimana orang-orang Nasrani mengangkat Isa Bin Maryam. Maka aku ini hanyalah
hamba. Maka katakanlah hamba Allah dan
rosul-Nya''.
Maka ghuluw tidak boleh sekalipun pada Rasululloh صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . Maka bagaimana
pada pribadi/orang tertentu yang ada di akhir zaman, miskin(penuh cacat dan
kekurangan_Pent). Maka bagaimana kalau mereka itu adalah para ahlul bid'ah yang
sesat, kemudian engkau berloyalitas padanya, bermusuhan atas dasar dirinya dan
ghuluw terhadapnya serta mensucikannya? Yang seperti ini tidak diperbolehkan.
Loyalitas itu karena Allah, benci
juga karena Allah, Sekalipun terhadap para nabi! Kita mencintai para nabi karena Allah. Demikian pula terhadap orang-orang
sholih. Kita mencintai mereka karena Allah, sedangkan terhadap orang orang
kafir dan ahlul bid'ah kita membenci mereka karena Allah 'Azza Wa Jalla.
Loyalitas itu lillah(karena
Allah), mencintai fillah (karena Allah) dan membenci juga fillah. Apabila cinta
dan benci didasari oleh selain Allah, maka
pada hakikatnya dia berada di atas jalan syaithon dan bukan dari Allah sama
sekali.
(dari kaset berjudul: Ahlus
sunnah dan ciri-cirinya)
alih bahasa @admin ashshiddiiq
Sumber:
https://goo.gl/3P66Bx











